Wanita sebagai korban stress
Untuk mengatasi stress, wanita tidak menarik diri atau menjadi kasar melainkan melakukan kontak sosial, terutama dengan wanita lain, serta menghabiskan waktu untuk mengurus anak – anak mereka.
Reaksi dan perilaku merawat. Situasi dan kondisi wanita bisa merawat orang lain atau secara emosional terbentuk jalinan merupakan perangsang oksitosin yang mujarab.
Lingkungan kerja di luar rumah mengambil keputusan dan menetapkan prioritas berdasarkan hasil, bukan berdasarkan kebutuhan orang lain serta sikap profesional memancing produksi testosteron, tidak menurunkan tingkat stress wanita.
Sendirian tanpa mendapat dukungan masyarakat atau wanita lain. Perasaan ditinggalkan ini semakin meningkatkan stress wanita.
Perlu menerapkan pola pikir dan sistem dukungan dari pekerjaan, teman, dan keluarga yang dapat merangsang produksi oksitosin rutin.
Tanpa dukungan ini, wanita akan merasa tidak sanggup menghadapi pasangan. Memahami perilaku yang menghasilkan oksitosin dapat sepenuhnya mengubah cara pria menafsirkan perilaku wanita. Misalnya, ketika wanita mengeluh dia tidak mendapat cukup dukungan, atau merasa butuh membicarakan masalah yang dihadapinya, bukan berarti dia tidak menghargai apa yang dihargai pasangan. Malahan, perilakunya bisa jadi merupakan indikasi bahwa dia berusaha mengatasi stress dengan cara menaikkan tingkat oksitosinnya.
Membicarakan persoalan yang dihadapi dengan seseorang yang dicintai dapat menaikkan tingkat oksitosin pada wanita.
Berbicara dan berbagi, pria bisa salah mengartikan bahwa wanita mencari pemecahan masalah dari dirinya, memotong pembicaraan wanita untuk memberi solusi, karena memecahkan masalah merupaan salah satu cara untuk menjadikan dirinya merasa lebih baik ketika dalam keadaan stress. Memecahkan masalah akan menaikkan tingkat testosteronnya.
Setelah pria memahami bahwa hanya dengan mendengarkan pasangan saja sudah cukup membuat wanita merasa lebih baik, tingkat testosteron juga akan naik, karena dia tahu pada dasarnya dia juga sudah memecahkan masalah.