Disiplin dan Emosi Anak
Ada sebagian orangtua yang berpendapat bahwa anak tidak memerlukan disiplin sebab pada akhirnya ia akan belajar disiplin dengan sendirinya. Pandangan ini tidak tepat sebab anak memerlukan disiplin sama seperti anak memerlukan tangan orangtua untuk menuntunnya belajar berjalan.
Salah satu alasan mengapa disiplin diperlukan adalah karena disiplin akan mempengaruhi emosi anak. Ada kaitan yang erat antara disiplin dan pengembangan serta penguasaan emosi anak. Penerapan disiplin yang tidak tepat berpotensi menghambat pemgembangan dan penguasaan emosi anak. Berikut kita akan melihat penerapan disiplin yang tidak tepat dan pengaruhnya pada perkembangan emosi anak.
Namun pertama kita akan membahas definisi disiplin itu sendiri.
Definisi Mendisiplin anak adalah usaha yang terencana dari pihak orangtua untuk (a) mengendalikan dan menghilangkan perilaku anak yang tidak sesuai dengan harapan orangtua dan (b) menumbuhkan dan mempertahankan perilaku anak yang sesuai dengan harapan orangtua. Setidaknya ada tiga unsur yang terlibat di sini.
Penerapan I: Terencana Pertama, disiplin merupakan usaha yang terencana dari pihak orangtua, dalam pengertian disiplin bukanlah sekadar reaksi emosional melainkan reaksi yang telah dipikirkan secara matang sehingga arah dan kekonsistenannya terjaga.
Reaksi orangtua yang bersifat emosional dan insidental tanpa kesinambungan berpotensi menimbulkan kebingungan dan pada akhirnya memancing reaksi marah atau ketakutan pada anak.
Penerapan II: Mengendalikan dan Menghilangkan Kedua, disiplin digunakan untuk mengendalikan dan menghilangkan perilaku anak yang tidak sesuai harapan orangtua. Tidak semua perilaku anak benar dan baik, itu sebabnya anak memerlukan pembentukan agar perilaku yang tidak sesuai dapat dikendalikan dan dihilangkan.
Untuk itu diperlukan sistem konsekuensi yang jelas dan tepat. Kegagalan orangtua menerapkan disiplin membuat anak bebas melakukan hal-hal negatif dan ini akan membuatnya lemah dalam penguasaan diri. Sebaliknya disiplin yang berlebihan membuat anak ketakutan atau memendam kemarahan yang dalam.
Penerapan III: Menumbuhkan dan Mempertahankan Ketiga, disiplin digunakan untuk menumbuhkan dan mempertahankan perilaku yang sesuai dengan harapan orangtua. Kadang kita beranggapan, sekali nilai yang baik itu tertanam, selamanya ia akan berakar dan berbuah.
Faktanya tidak demikian; bukankah ada banyak hal positif yang pernah kita lakukan tidak kita lakukan lagi sekarang?
Orangtua perlu menciptakan sistem imbalan agar anak melihat dan mencicipi sendiri buah keberhasilannya. Dengan kata lain, anak perlu menyadari bahwa disiplin yang diterapkannnya memang baik untuknya, bukan hanya untuk kita.
Selama anak melihat bahwa semua ketaatannya hanyalah untuk menyenangkan hati orangtua, disiplin itu belum menjadi bagian hidupnya. Jika ini terjadi, tujuan disiplin telah tercapai: disiplin orangtua telah menjadi disiplin diri.
Sekali lagi tentang anak yang masuk golongan Attention Deficit Hyperacitivity Disorder. Ciri utamanya adalah kesulitan untuk berkonsentrasi dan mengendalikan emosi serta perilakunya.
Ada yang hanya mengalami kesulitan memusatkan perhatian untuk kurun yang lama; ada pula yang tidak dapat mengendalikan perilaku dan emosinya akibat energi yang berlebihan.
Kali ini kita hanya akan membahas tentang emosi dan perilakunya yakni bagaimanakah kita sebagai orangtua dapat menolongnya mengendalikan emosi dan perilakunya. Ada beberapa langkah yang dapat kita ajarkan dan semuanya termaktub dalam akronim STAR.
Stop Kita mengajarkannya untuk berhenti dan tidak melakukan apa-apa tatkala anak tengah marah. Pertama, kita melatihnya untuk mengontrol pernapasannya yakni menarik napas yang panjang dan melepaskannya perlahan-lahan.
Kedua, kita mengajarkannya untuk merilekskan pundaknya.
Ketiga, kita mengajarkannya untuk mendengarkan pernapasannya. Keempat, bila memungkinkan kita mengajarkannya untuk meninggalkan situasi yang membuatnya marah itu.
Think Anak yang mengidap ADHD cenderung peka secara berlebihan dan hal ini membuatnya mudah tersinggung dan marah. Setelah ia mampu untuk stop, langkah berikutnya adalah mengajarkannya untuk berdialog dengan diri sendiri.
Dalam dialog ini, ia harus menjawab pertanyaan, “Apakah ini ditujukan kepada saya dengan maksud untuk membuat saya marah?” Dengan kata lain, kita memintanya untuk berpikir obyektif dan luas.
And Respond Jika jawaban terhadap pertanyaan itu adalah ya, ditujukan kepadanya untuk membuatnya marah, maka langkah berikutnya adalah mengajarkannya untuk menimbang respons seperti apakah yang seharusnya ia berikan.
Di sini kita perlu mengajarkannya tentang kehendak Tuhan yakni tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Kita pun dapat mengajarkannya untuk memikirkan alternatif yang lain, misalkan berbicara langsung kepada pihak yang bersangkutan atau melaporkannya kepada kita.
Halo, salam kenal…
Saya punyakepobakan laki2 berumur 7 th. Dia mudah sekali marah, dari kecil sifat pemarahnya sudah terlihat.
Waktu mulai sekolah dia sering sekali memukul temannya, seperti di meninju, mendorong.
Dia juga susah sekali untuk diberi pengertian, danseringkali menjawab (menyahut) kalau di diberikan penjelasan (sama siapa saja, termasuk neneknya) kalo dia lg marah dirumah dia bisa membanting2 barang, membalikkan kursi, membanting kursi ke meja sampai pecah.
Apa perilaku seperti ini bisa dikategorikan sbg ADHD? Mohon pertolongannya…..
terima kasih
October 22nd, 2009 at 6:46 amHallo juga Ibu Lani,
Senang sekali bisa berkenalan dan berjumpa dengan Ibu meskipun melalui web blog SLC. Kami juga bisa merasakan apa yang dialami oleh keponakan ibu.
Menurut dari beberapa referensi yang diketahui bahwa wajar bila pada usia belia, anak – anak menjadi kesulitan mengkontrol tingkah laku (impulsif). Namun ketidakmampuan masa kanak – kanak yang umum ini jangan sampai berlanjut sampai masa remaja bahkan dewasa. Oleh karena itu kita perlu mencari akar masalah mengapa keponakan ibu menjadi impulsif.
Kemarahan yang ditunjukkan dengan sering menyahut, meninju atau mendorong teman, membanting barang, membalik kursi ke meja sehingga pecah adalah bentuk ekspresi dari komunikasi yang ingin ditunjukkannya kepada orang lain. Akar dari kemarahan inilah yang seharusnya dicari dengan cara komunikasi terbuka dari hati ke hati. Posisikan diri kita sebagai anak yang masih berusia 7 tahun yaitu dengan menggunakan bahasa dan cara berpikir (menganalisa keadaan) anak seusianya.
ADHD atau yang dikenal sebagai attention deficit hyperactivity disorder ditunjukkan dengan kesulitan tetap fokus (kurang perhatian), kesulitan mengkontrol tingkah laku (impulsif), dan hiperaktif (aktif yang berlebihan). Seseorang boleh dikatakan sebagai penyandang ADHD apabila mempunyai diagnosa ketidakmampuan yang ditunjukkan dengan enam tanda – tanda di bawah ini atau lebih, selama enam bulan atau lebih, serta gejala yang ditunjukkan lebih banyak daripada seumurnya.
Adapun gejala – gejala ADHD dapat digolongkan menjadi tiga tipe, yaitu :
1. Predominantly hyperactive-impulsive (Dominansi hiperaktif – impulsif)
Menunjukkan enam gejala atau lebih dari kategori hiperaktf – impulsif.
2. Predominantly inattentive (Dominansi kurang memperhatikan)
Sebagian besar enam gejala atau lebih dari gejala kurang memperhatikan. Mereka kurang tertarik terhadap kebersamaan atau mempunyai kesulitan bersama teman – teman yang lain. Mereka mampu duduk diam namun mereka tidak dapat memperhatikan hal yang mereka lakukan. Oleh karena itu, anak ini mungkin terabaikan, dan kedua orang tua dan para guru tidak memperhatikan bahwa anak ini ADHD.
3. Combined hyperactive-impulsive and inattentive (Kombinasi hiperaktif – impulsif dan kurang memperhatikan). Kebanyakan anak merupakan tipe kombinasi ini. Perawatan dapat menyembuhkan beberapa penyandang gejala ini, namun tetap tidak dapat sembuh total. Dengan perawatan, banyak orang dengan ADHD dapat sukses di sekolah dan memimpin kehidupan yang produktif.
Anak – anak yang mempunyai gejala – gejala kurang perhatian menunjukkan :
• Mudah sekali terganggu, kurang detail, pelupa & sering berubah aktivitas ke aktivitas lain.
• Sukar fokus pada sesuatu.
• Mudah bosan dari sebuah tugas meskipun hanya untuk beberapa menit, meskipun dia
melakukan yang disenangi sekalipun.
• Sulit perhatian pada fokus mengatur dan menyelesaikan sebuah tugas ataupun belajar
sesuatu yang baru.
• Bermasalah dalam menyelesaikan tugas rumah, sering kehilangan (contoh : pensil, peralatan,
dll) yang dibutuhkan untuk melengkapi tugas atau aktivitas – aktivitas.
• Tidak mendengarkan ketika kita berbicara padanya.
• Suka melamun, mudah panik, dan gerak yang lambat.
• Sulit menangkap informasi yang cepat dan menyampaikan secara akurat pada orang lain.
• Sangat berjuang bila mengikuti intruksi.
Anak – anak yang mempunyai gejala – gejala impulsif menunjukkan :
• Sangat tidak sabar.
• Sangat ekpresif, menunjukkan emosi – emosinya tanpa lelah dan bertindak tanpa takut
terhadap konsekuensinya.
• Mempunyai kesulitan untuk menunggu sesuatu apa yang menjadi keinginannya ataupun
menunggu gilirannya dalam sebuah permainan.
• Selalu menginterupsi percakapan atau aktivitas orang lain.
Anak – anak yang mempunyai gejala – gejala hiperaktif menunjukkan :
• Perasaan gelisah dan terus bergeliat selama duduk.
• Berbicara tanpa henti.
• Lari berkeliling, menyentuh atau bermain dengan apapun dan tiap benda dipandangannya.
• Bermasalah dengan duduk tenang selama makan, di sekolah dan saat mendongeng.
• Terus – menerus bergerak.
• Mempunyai kesulitan melakukan tugas atau aktivitas dengan tenang.
Kiranya penjelasan di atas bisa memenuhi kebutuhan Ibu untuk lebih mengetahui kebutuhan dari keponakan Ibu. Apabila ada hal yang dapat disharingkan lebih lanjut, dipersilahkan untuk menyampaikan hal ini pada respon berikutnya. Dengan senang hati kami siap mendengarkan kabar selanjutnya ?
Salam hangat,
January 3rd, 2010 at 2:18 pmModerator
Well, the article is actually the sweetest on this notable topic. I harmonise with your conclusions and will thirstily look forward to your next updates. Saying thanks will not just be sufficient, for the extraordinary lucidity in your writing. I will directly grab your rss feed to stay abreast of any updates. Solid work and much success in your business efforts!
March 8th, 2010 at 11:52 am