Bagaimana memaksimalkan anak “underachiever” ?
Wah ada hal baru nih, kali ini kita membahas mengenai anak “underachiever”. Anak “underachiever” itu seperti apa sih ? Anak “underachiever” adalah anak yang mempunyai prestasi akademis lebih rendah daripada perkiraan. Adapun ciri - ciri anak “underachiever” antara lain :
1. IQ lebih tinggi daripada prestasi.
2. Prestasi inkonsisten : kadang bagus, kadang tidak.
3. Tidak menyelesaikan PR.
4. Rendah diri.
5. Takut gagal (atau sukses).
6. Takut menghadapi ulangan.
7. Tidak mempunyai inisiatif.
8. Malas bahkan depresi.
Apakah ada cara untuk memaksimalkan anak ”underachiever” ? Tentu ada dong, yaitu dengan mengetahui ”learning profile” anak ini, kita dapat mengembangkan potensinya. Kali ini kita hanya akan membahas enam macam ”learning profile” yaitu:
1. Disposisi
Disposisi adalah cara anak menunjukkan dirinya kepada dunia.
a. Performer (seperti artis)
Anak performer senang jadi pusat perhatian dan spontan, aktif, kompetitif, suka tantangan dan suka adu argument dengan orang tua, suka pelajaran yang fun, yang menyenangkan, dan relevan dengan kehidupannya sehari-hari, pelajaran harus bervariasi dan sebisa mungkin libatkan mereka untuk terjun langsung dalam belajar (hands on), disebut anak-anak sulit atau bandel di sekolah. cara untuk mengajari anak-anak yang seperti ini:
1. Beri materi-materi yang singkat dan to the point.
2. Mereka senang dan responsif jika belajar dengan game ataupun manipulatif.
3. Mereka butuh waktu yang bebas.
Melalui pengembangan bakatnya. Dengan demikian kita telah memberikan media di mana mereka bisa tampil dan berkata,” Inilah aku!”
b. Produser
Membahas anak efisien yang paling disayang oleh guru dan orang tua. Kalau Anda memiliki anak seperti ini rasanya tenang sekali. Ia tertib, rajin, fokus, rapi, tertib, suka membuat rencana dan aturan atau hal-hal terstruktur. Anak-anak ini sangat produktif, otomatis tanpa harus diingatkan dan ia siap. Menurut penelitian, anak-anak tipe ini hanya ada 8% - 16% dari keseluruhan populasi sebuah kelas.
c. Penemu
Anak yang cerdas. Banyak bertanya dan tangannya terampil, suka otak-atik. Ia suka menyendiri, suka berpikir secara konkrit, memecahkan masalah sehari-hari (riil) mereka bagus sekali, butuh stimulus intelektual, perlu diajak bicara cukup ‘tinggi’ pada level pengetahuannya. Orang tua perlu memberi kesempatan agar mereka bisa menyumbangkan kemampuan mereka.
d. Pencipta dan pemikir
Anak-anak ini memiliki imajinasi yang tinggi, sering melamun, anak pencipta suka berpikir abstrak. Anak pencipta dan pemikir juga senang bertanya dan terbuka dengan ide yang baru. Perlu penyaluran ide-ide baru yang diciptakannya, dia butuh waktu untuk menyendiri. Jangan beri jadwal yang padat.
e. Sosial dan Inspirator
Individu yang bersifat sosial dan yang memberi inspirasi bagi lingkungannya, paham dan peduli dengan perasaan orang lain, adil, penolong, rela berkorban, sangat efektif bekerja dalam kelompok karena tidak egois. Anak ini menciptakan kerjasama dalam kelompok dan biasanya menjadi leader. Ajari dia untuk tidak terlalu larut dalam menolong orang itu.
2. Kecerdasan Majemuk
Tiap anak atau manusia memiliki berbagai kecerdasan, namun kadarnya berbeda-beda. Anak yang masih balita, orang tua bisa mengembangkan berbagai kecerdasan majemuk ini untuk memanfaatkan otak balita masih sangat plastis untuk membentuk fondasi pembelajaran bagi masa depan anak kita. Adapun 9 kecerdasan tersebut ialah:
a. Musik
Anak cerdas musik suka bernyanyi, bersiul, bergoyang kalau mendengar lagu. Hobinya menghapal lagu, bermain instrumen. Biasanya anak ini ceria.
b. Matematika
Kecerdasan ini dibagi dua: angka dan logika matematika. Anak dengan kecerdasan angka senang menghapal fakta dan rumus. Suka mengerjakan lembar kerja (work sheet) matematika dan cepat mengenali pola-polanya. Sedang anak dengan kecerdasan logika cepat memahami konsep matematika, jalur listrik, puzzle atau kalau ada kerusakan di komputer ia dengan cepat dapat mengetahuinya.
c. Bahasa
Kecerdasan ini juga dibagi dua, yaitu kata-kata dan listening. Anak dengan kecerdasan kata, suka menghapal kamus, bermain scrabble, mengerjakan teka teki silang, cerdas mengeja kata-kata (spelling) dan senang menghapal nama dan fakta. Kecerdasan kedua ialah listening, di mana anak ini suka menerangkan ide, diskusi, membuat perencanaan, menulis esai, bercerita, membuat puisi dan biasanya humoris, karena ia cepat menangkap lelucon dan makna percakapan
d. Spasial
Arsitek ialah contoh anak dengan kecerdasan spasial. Mereka bisa membayangkan ruang tiga dimensi, suka menggambar, disain, melukis. Mereka juga berpikir dalam gambar, mudah mengingat apa yang dilihat ketimbang apa yang didengar, mengingat dimana mereka meletakkan barang, suka mencorat-coret buku, hobi bermain puzzle, tidak mudah tersesat dan mudah memahami peta.
e. Fisik
Kecerdasan ini dimiliki oleh atlet, para penari, ahli bedah atau pemahat. Kecerdasan ini dibagi dua, yaitu motorik kasar – lincah dalam berolah raga dan motorik halus – menjahit, menggergaji, mengetik.
f. Intrapersonal
Disebut juga kecerdasan karakter. Anak ini menikmati kesendirian, independen. Ia dapat memahami diri sendiri, baik keinginan maupun motivasinya.
g. Sosial
Kecerdasan ini ada hubungannya dengan disposisi sosial di atas. Ciri-ciri anak cerdas sosial adalahmudah berteman, memahami dan menyenangkan orang lain. Dapat mendamaikan orang lain, adil dalam berinteraksi dengan orang lain dan menikmati kegiatan kelompok, sangat kooperatif, menolong orang dan sangat mendukung kegiatan sosial.
h. Natural
Ada dua bagian kecerdasan natural, yaitu hewan dan lingkungan. Anak dengan kecerdasan natural pada hewan mereka sangat berbakat dalam melatih bianatang, sepertinya mereka dapat berkomunikasi dengan binatang. Sedang kecerdasan pada lingkungan senang bermain di luar, bermain lumpur, rumput atau menanam tanaman.
i. Spiritual
Anak ini peka dengan eksisitensi diri, suka berfilsafat, bijaksana, humoris, dan kita sering mengecap anak ini ngomong seperti orang tua karena kalimat-kalimatnya yang terkesan bijaksana.
Setelah kita mengenal karakter kecerdasan anak, kita perlu mencatat dimana peta kecerdasan anak kita (kekuatan dan kelemahannya), kemudian memilih mana yang harus terus dikembangkan dan mana yang perlu remedi. Dengan mengenali kecerdasan anak, kita bisa menunjukkan penghargaan terhadap kelebihan anak, sehingga anak akan menjadi lebih percaya diri.
3. Talenta
Kecerdasan majemuk ditambah minat disebut talenta. Seorang anak yang cerdas matematika belum tentu berminat matematika. Tetapi anak yang berbakat atau punya talenta matematika pasti cerdas dan berminat. Jadi ciri utamanya talenta ialah minatnya.
Ini menjadi poin penting bagi kita orang tua: CARILAH BAKATNYA, BUKAN KECERDASANNYA. Sekali lagi, yang pertama ialah memilih bakat yang dijadikan fokus, kedua mengatur – jadwal dan kondisi keuangan keluarga. Prinsipnya kita harus memilih bakat anak kita yang paling menonjol dan sebagai keluarga mendukung dia semaksimal mungkin.
4. MODALITAS
Adalah indera yang digunakan anak untuk menyerap informasi. Cara anak menerima informasi (melalui telinga, mata, atau sentuhan & gerakan)memainkan peran penting dalam sukses anak di sekolah.
TIGA MODALITAS UTAMA:
a. Auditori
Anak-anak auditori menerima informasi melalui telinga (dengan suara). Sistem pembelajaran kuliah dan diskusi sangat cocok bagi mereka. Bagaimana kita dapat mengenalinya? Dengan melihat apakah anak kita senang mendengar cerita atau musik. Bisa juga dilihat dari caranya mengingat atau menghapal, misalnya mengatakan sesuatu secara berulang-ulang.
Anak-anak auditori memahami instruksi lisan dengan mudah. Cara mereka berpikir ialah dengan berbicara dengan diri sendiri. Ia tipe PENDENGAR di mana ia mudah mengingat apa yang dikatakan oleh orang lain.
Dalam membaca ataupun mendengar penjelasan guru, mereka perlu membuat “kaset rekaman” dalam pikiran mereka yang berisi data-data penting.
b. Visual
Anak visual menerima informasi dengan melihat, melalui mata. Cara mereka belajar dengan memakai gambar, disain, grafik, obyek, ataupun drama.
Bagaimana mengenali anak visual ini ? Mereka suka menonton film, membaca buku, nonton TV, mengingat dengan membuat ‘gambar’ di pikiran dan berpikir dengan melihat ‘gambar’ di pikiran.
Mereka juga memperhatikan apa yang dipakai oleh orang lain. Mereka suka warna dan disain. Mereka memberikan komentar terhadap penampilan orang, warna dan bentuk gedung. Anak seperti ini sering juga disebut tipe PENONTON.
Tips untuk memaksimalkan efektifitas belajar: Pembelajar Visual perlu membaca bahan pelajaran secara berulang-ulang. Pada bagian yang penting, ajar anak untuk membuat “potret”.
c. Kinestetis
Anak Kinestetis menerima informasi melalui sentuhan. Cara optimal untuk belajar adalah dengan menyentuh obyek yang konkrit, nyata. Anak dengan modalitas ini biasanya sulit ditangani di sekolah. Mereka suka sentuhan dan gerak serta tidak bisa diam, suka mondar-mandir.
Ia cepat belajar dengan melihat bagaimana orang melakukannya ketimbang disuruh membaca buku manual. Dia senang duduk di sebelah kita saat mengerjakan sesuatu dan ia bisa langsung menirukan. Ia berpikir dengan bergerak, jadi biarlah dia terus berolahraga. Anak kinestetis merupakan tipe PELAKU.
Mungkin Anda pernah mendegar prinsip berikut ini: Kita belajar 10% dari apa yang kita baca, 15% lewat apa yang kita dengar, 40% lewat apa yang kita lihat dan 80% lewat apa yang kita alami. Karena itu kita perlu memberikan variasi dalam mengajar dengan memperhatikan modalitas anak.
Modalitas bisa berubah, namun saat anak mencapai usia SMU modalitasnya relatif tetap karena modalitasnya sudah terbentuk.
5. LINGKUNGAN
Perlu diperhatikan juga lingkungan anak kita untuk menjamin kenyamanan anak dalam belajar. Beberapa hal berikut penting kita perhatikan:
a. Cahaya
Ada anak yang suka dengan terang, ada yang suka dengan remang. Bagi yang suka dengan cahaya matahari – waktu mengerjakan PR sebaiknya di sore hari. Ada yang suka cahaya dari jendela, namun ada yang tidak peduli dengan cahaya.
b.Suara
Ada yang suka suasana yang tenang saat mengerjakan PR, namun ada yang suka dengan background suara – suara mobil berjalan, musik atau suara orang yang sedang ngobrol.
c.Makanan
Kita perlu tahu pola makan anak. Ada yang lapar di pagi, siang, malam dan ketika pulang sekolah.
d.Waktu
Masalah waktu penting sekali diketahui. Energi anak kita yang paling tinggi dan yang rendah kapan – pagi, siang, sore, malam? Demikian juga dalam hal mengerjakan PR-nya.
e.Warna
Dulu saya tidak mengerti pentingnya warna. Ada orang tertentu yang sensitif dengan warna. Jadi kita berikan warna yang cocok untuk anak kita saat dia belajar, warna yang membawa emosi positif bagi anak.
f.Interaksi
Kita perlu tahu interaksi yang disenangi anak kita. Apakah dia suka belajar di kamar yang tertutup sendirian? Apakah ia belajar bersama orang lain namun orang itu diam? Atau dengan orang yang sibuk sedang mengerjakan sesuatu? Ada juga anak yang suka belajar dengan hewan kesayangannya.
g.Posisi
Umumnya anak duduk tegak saat belajar di meja belajar. Tetapi ada anak yang merasa sulit konsentrasi belajar dalam posisi itu. Dia mungkin cocok dengan duduk di lantai, di sofa, berdiri di depan papan tulis atau berbaring di tempat tidur.
6. GAYA BERPIKIR
Secara umum ada dua gaya berpikir yang dimiliki oleh anak, yaitu gaya berpikir global dan gaya berpikir sequential.
a.Global
Anak ini berpikir dengan cara melompat-lompat, menerima materi secara acak, cepat menemukan solusi – walau sulit menerangkan langkah-langkah solusinya. Anak ini juga sering disebut big picture thinker, dia bisa melihat gambaran umum permasalahan dengan jelas. Dia bisa melihat pola dengan cepat. Tetapi urusan yang detil-detil, dia tidak tertarik. Pemikir global ini juga mampu mengaitkan informasi yang baru dengan yang lama, tanpa memperhatikan instruksinya.
b.Sequential
Anak ini berpikir secara logis – linear. Dengan kemampuan berpikir logis, umumnya anak-anak ini sukses dan berprestasi di sekolah, karena cara guru mengajar di sekolah biasanya sequential, secara berurutan. Mereka juga berpikir secara mendetil dan suka membaca manual.
Sudahkah kita tahu apa sajakah ”learning profile” masing – masing anak kita?
Setelah membaca artikel diatas. Saya jadi lebih mengerti bahwa pola pembelajaran untuk anak tidak bisa di sama ratakan. Terima kasih
June 11th, 2010 at 9:28 am